Pelajaran I
Pelajaran dari Jakarta (1)
Beberapa waktu yang lalu, tibalah aku di Jakarta, dalam rangka menghadiri undangan pernikahan saudara di daerah Jakarta Utara. Begitu turun dari kereta, sudah dijemput saudara untuk langsung menuju ke penginapan. Disana (di penginapan) sudah menunggu banyak saudara yang lain yang sudah tiba lebih dulu dari berbagai daerah. Setelah beristirahat sebentar, langsung dari penginapan berangkat ke rumah saudara yang punya acara, yang ternyata letaknya tidak jauh dari penginapan. Meskipun acara akad nikah baru keesokan harinya, tapi karena saudara, sekalian silahturahmi karena jarang ketemu di Jakarta, akhirnya ramai-ramai berangkat kesana.
Ramai sekali, begitulah kesan yang aku tangkap saat sampai dirumahnya, namun sekaligus sepi, untuk ukuran orang yang biasanya akan melangsungkan pernikahan. Biasanya, orang kalau melangsungkan pernikahan, meskipun tidak selalu ada tapi sering ada, adalah memasang terop dan kursi-kursi disiapkan didepan rumah untuk para tamu dan saudara yang datang, kemudian memasang speaker dan sound system yang kalau bisa sebesar dan sekeras mungkin suaranya, asal kuat bayar sewa. Saat aku perhatikan, terop didepan rumah ada, kursi ada, tapi sound system tidak ada. Saat itu aku sempat berpikir belum dipasang, tapi apa mungkin, soalnya acara nya dimulai besok nya. Padahal kalau umumnya, beberapa hari sebelum dimulai acara resmi, speaker dan sound system itu sudah dipasang dan disetel sekeras mungkin, gak peduli tetangga sebelah lagi tidur, lagi sakit, lagi istirahat, lagi kerja yang butuh ketenangan. Begitulah kalau di daerah.
Setelah makan siang dan ngobrol-ngobrol ringan dengan saudara yang lain, Pakde (ayah dari mbak yang akan nikah), mulai menjelaskan susunan acara untuk akad nikah besoknya, sementara yang mau nikah masih senyum-senyum, ketawa-ketawa, sambil nyapu en ngepel rumah. Ternyata, Pakde bilang kalau memang dari keseluruhan upacara yang biasanya dilakukan orang umum, banyak yang dihilangkan, diantaranya injak telur, dan beberapa hal lainnya, sehingga terlihat lebih simpel. Katanya, ini Jakarta, banyak hal yang harus disesuaikan. Tidak seperti didaerah, begitu katanya. Tetangga juga tidak diundang semua, meski semua tahu, cukup tetangga dari kanan, kiri, depan rumah yang diundang, beserta beberapa anak yatim. Sehingga kursi tamu sebagian besar diperuntukkan bagi saudara dan tamu yang kebanyakan dari luar daerah yang mungkin capek di perjalanan daripada untuk tetangga yang setiap saat bisa pulang karena rumahnya di sebelah.
Sepertinya jadi pelajaran I, tidak semua acara yang “besar”, harus dibesar-besarkan, cukup apa adanya, asal intinya sama. Gak buang-buang duit, tenaga dan pikiran. Meski sebenarnya beliau mampu, malah mampu banget. Bisa dicontoh.
Sebenarnya banyak hal yang jadi perhatian saat pertemuan ini, tapi inilah yang jadi inti pembicaraan. Setelah pertemuan ini ditutup, mumpung masih sore, ada beberapa orang termasuk saya ikut berangkat jalan-jalan sebentar. Meski awalnya nolak, akhirnya ikut diculik juga, dan pulang nya dapat pelajaran berikutnya …..
(to be continued …)

Leave a Reply